Thursday, August 23, 2007

Some People Are Not

Mas Fajar, aku udah baca loh bukunya...boleh juga untuk para pemula film dokumenter.
Oh iya, kenalin nih, aku Lia Iris, aku juga punya PH sendiri loh, namanya Querida Cinema, tapi masih kecil-kecilan :).
Aku juga berniat untuk membuat film dokumenter...
Btw, kenal juga ya sama Pak Haji (Dedy Mizwar)?

Kapan main ke Jakarta?, pengen banget deh ketemu Mas Fajar, banyak yang pengen aku ceritain, sharing deh kalo bisa.

Ok deh...
Salam buat kru nya, Wassalamualaikum wr wb

LIA IRIS

------

Mas Fajar, apa kabar? Saya Jumadal Simamora, tinggal di Tangerang. Saya sudah beli dan baca buku mas fajar yang berjudul "Cara Pinter Bikin Film Dokumenter". Bukunya bagus dan isinya mudah di cerna dan sangat praktikal banget.

Dari dulu memang saya punya keingin membuat film dokumenter, namun ga kesampaian, karena tidak tau harus memulai darimana. Namun setelah membaca buku mas Fajar, keinginan untuk memproduksi film dokumenter itu muncul kembali.

Sebagai referensi, saya pengen nonton film dokumenter mas fajar yang berjudul " Jogja need a hero" dan Kerajaan di tepi Bengawan". Bagaimana saya mendapatkan film dokumenter tersebut? Saya minta tolong bantuan mas Fajar!

Trima kasih sebelumnya,


Jumadal S

----

Do-Nha
Posted 01/08/2007 03:32

Pertama-tama kenalin nama gw Dona
gw dpt alamat fs kmu dari bku kmu yg judulny "cara Pinter Bikin Film DOKUMENTER"

Sebenarnya awal beli buku kmu iseng doang
paz lg mw nyari buku ttg fotografi dapetnya malah buku ttg film...
iseng aja gw beli truz gw baca
padahal gw tuh orgny mls bgt baca tpi buku lho gw baca cmn dalam 3 jam(lumayan lah bwt org yg ga suka baca)
selesai baca buku kmu gw langsung tertarik bwt bikin film dokumneter...
selesai baca scene 1 gw langsung dpt ide bwt bikin film
skrg gw lg dlm rangka nyiapin materi dan ngadain riset kecil2an bwt film gw nanti(sesuai saran kmu lho)

gw minta doanya biar film gw bakalan kelar tepat wktu truz bisa gw ikutin di lomba film dokumneter

n thanx bgt bwt buku kmu yg jadi inspirasi bt gw

----

YTh Mas Fajar Nugross

Pada hari sabtu kemarin saya dan adik saya jalan jalan di Toko Buku GRAMEDIA Jl J Sudirman dan saya menemukan buku berjudul ‘ Cara Pinter Bikin Film Dokumenter” yang anda tulis. Sesampainya di rumah saya membacanya dan mendapati bahwa anda telah membuat beberapa film.

Eh kalau boleh tau dimana saya bisa mendapatkan (membeli CD dari film film anda tersebut)

Terima kasih dan salut deh sma kegigihan dan ide kreatif mas Fajar

Sujarwadi

------

Saree
Date: Monday, 20 August, 2007 2:54 PM
Subject: Salam kenal....
Message: Hai Mas Fajar...,
aku Sari dari Bandung. Aku tahu Mas Fajar krn aku beli bukunya Mas Fajar 'cara pinter bikin film dokumenter'. Tahun ini aku jg kirim cerita utk EADC tp ngga masuk jd finalis..,hehe. Aku sangat tertarik bgt utk bikin film dokumenter. Setelah baca bukunya Mas Fajar, aku jd makin pede utk bikin film dokumenter. Skrg pun aku dan teman2 lg bikin sebuah film dokumenter.
Ok deh Mas...,sukses terus ya.....

-----

DiNda
Date: localDateTimewithTi mezone("8/ 8/2007 5:57 AM","timetag1" ,"ID"); Wednesday, 8 August, 2007 7:57 PM Subject: nice to know u... Message: hi...

i'm wanna from medan. i read ur 1st book thn be my insfiration to make documentary film. thats so surprise me as documentary lovers. i had make a semi documentary called profile (MY HERO). with my friend (netty) as director and me as camera woman, we made a documentary for the 1st time (MAY 2007). n video art also (MEDAN METROPOLITAN ? ). it was so unbelieveble. AGAIN N AGAIN, MAS.... HEHEHEHE...
in Medan, filmmaker communities is growing up. esspecially in university area.
hopPully, by this way, we may sharing about film or information. coz, i'm in final test to scription. "documentary film" is my thema. please, inform me if i need some literature, do u?

bravo to u...!!!

------

Mas Nugroho yang baik,

Ini saya Pujiyono, guru SMA Kolese de Briitto. Membaca buku anda, saya tertarik dan ingin belajar sesuatu dari anda.Konkretnya begini: saya di sekolah menugaskan anak-anaknuntuk membuat dokumentasi tentang nilai-nilai kebaikan Tuhan (religius). Di kelas sebelumnya saya pernah memberikan tugas serupa, bukan dalam bentuk film tetapi paper untuk dipresentasikan.Maka minta tolong bagaimana mendapatkan copy film anda, untuk dilihat dan sebagai sarana pembelajaran. Bisa memberi tahu alamat rumah, telp, hp. Ini untuk kepentingan kontak lebih lanjut, jika sewaktu-waktu bisa berbagi pengalaman.
Sementara ini dulu yang kami tanyakan. Trima kasih atas perhatiannya.

salam,

D. Pujiyono
SMA Kolese de Britto YK

Monday, August 06, 2007

WAJAH-WAJAH NUGROSS


Fajar Nugroho Dan Wajah-Wajahnya
Written by N3
Sabtu, 17 Maret 2007

Siapa sineas muda paling produktif di Jogjakarta? Jawabannya tentu tidak lain, Fajar Nugroho atau Fajar Nugross, dua nama untuk satu orang yang sama. Mengikut di belakangnya tentu sukses yang diraih oleh film-film fiksinya seperti "Sangat Laki-Laki" dan "Dilarang Mencium Di Malam Minggu." Kali ini SHOK #5 (Screening Hall On Kinoki ke lima) memutar lagi film-film lulusan Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Jogjakarta itu, di KINOKI, jalan Suroto Kotabaru, pada hari Selasa 13 Maret 2007 malam.

Selain menggarap film fiksi, dia juga sempat menggarap film dokumenter, namun sayangnya karena kendala teknis, salah satu film dokumenter yang sedianya akan diputar dalam acara tersebut, batal. Tiga buah film fiksinya diputar dalam acara tersebut sebagai pengantar diskusi. Film pertama adalah "JakJogLik," yang juga merupakan film pertama yang digarapnya. Film yang digarap tahun 2002 dengan durasi 29 menit itu bercerita tentang seorang anak muda dari Jakarta yang jauh-jauh datang ke Jogja demi menemukan cintanya, seorang gadis yang dilihatnya setahun lalu di sepanjang jalan Malioboro.

Rama, pemuda itu, menguntit si gadis dari sisi Stasiun Tugu sampai ujung sebelah Selatan, di depan gedung Kantor Pos Besar Jogjakarta, sebelum akhirnya tanpa diduga gadis itu dibawa pergi oleh gerombolan tidak dikenal. Kepergiannya menyisakan pertanyaan berikut selembar scarf yang dijatuhkannya. Setahun kemudian, Rama kembali ke Jogja untuk menemukan gadis itu. Di akhir film terdapat pesan yang intinya bila benar mencintai seseorang maka mendekatlah.

Tidak berbeda jauh, film kedua, "Dilarang Mencium Di Malam Minggu," film tahun 2003 yang juga masih bicara soal cinta, meskipun hadir dalam bentuk yang berbeda. Bercerita soal perselingkuhan yang dilakukan oleh seorang gadis. Tokoh pemuda kali ini terpaksa harus berpisah dengan si gadis pada setiap hari Sabtu dan Minggu karena pacar Alina, gadis itu, kembali dari tempat KKNnya. Meski begitu, film tersebut berakhir bahagia dengan bersatunya Alina dan si pemuda karena ternyata pacarnya juga berselingkuh dan memutuskan hubungannya dengan dia.

Setelah film ke dua diputar, tibalah sesi disusi yang meskipun ditengah hujan deras, tetap berlangsung hangat dan seru. Rata-rata peserta diskusi emmberi komentar yang sama, bahwa pada dasarnya mereka bosan dengan alur film yang lamban dan membosankan. Ide cerita juga berkisar pada hal yang sama, cinta, wanita dan sakit hati. Diakui Nugross, pada dua film tersebut dia masih belum memiliki banyak pengetahuan yang berkaitan dengan pembuatan film. Peralatan yang digunakannyapun masih sangat sederhana. Sedangkan dari segi cerita, menurut dia, selalu berangkat dari pengalaman pribadinya maupun teman-temannya.

"Di film 'Dilarang Mencium', waktu itu saya punya pacar yang selalu berantem pas Malam Minggu, juga cerita-cerita sedh yang dialami oleh para pria di film-film itu juga berangkat dari kisah hidup saya yang pedih....", katanya yang disambut oleh tawa riuh peserta diskusi. Film-film Nugross juga banyak menampilkan scene perjalanan dan dialog-dialog panjang yang melelahkan.

Meski begitu, kelebihan-kelebihannya dalam menggarap sebuah film tentu tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Yang banyak dipuji adalah kemampuannya untuk membuat penonton tidak beranjak selama film diputar. Selain itu, dia juga produktif dan banyak memiliki penonton. Salah satu film yang juga ddiputar dalam acara tersebut, "Sangat Laki-Laki" bahkan diputar untuk umum dengan animo yang cukup bagus.

Yang terpenting menurut dia adalah jangan berhenti pada film pertama, sehingga akan semakin dimudahkan dalam film-film selanjutnya karena kepercayaan yang diberikan oleh pihak sponsor atau pihk-pihak terkait lainnya adalah berdasarkan konsistensi berkarya.*

Wednesday, June 06, 2007

ASK YOUR TRUSTED BOOKSTORE

Friday, June 01, 2007

Monday, May 28, 2007

NAGABONAR JADI NYATA!



Desember 2005. Waktu itu saya jalan-jalan di toko buku pojokan TIM dan menemukan VCD film NAGABONAR yang gambarnya kepotong. Saya memutarnya di screen kecil di sudut Cheers Coffee untuk memeriahkan malam pergantian tahun 2006.

Sejak dulu, bapak saya nggak pernah suka dengan film. Terakhir kami sekeluarga menonton bioskop adalah saat menonton Jurassic Park. Tapi saat kecil dulu, bapak juga yang mengenalkan saya dengan bioskop, kami menonton Saur Sepuh dan setelahnya, saya bertekad akan membawa senter jika bapak mengajak saya ke bioskop lagi. Hanya karena saya penasaran, setiap film diputar, seperti ada senter besar yang menerangi layar dihadapan saya hingga keluar gambarnya.

Tapi sejak saya mulai seneng bikin film, bapak menjadi sebaliknya, nggak suka saya sibuk bikin-bikin film. Kata bapak, dalam sejarah keluarga, nggak ada darah seni yang mengalir. Jadi saya nggak akan berbakat bikin film. Larangan bapak semakin keras ketika kuliah saya berantakan, sementara adik saya melewati saya dan melanjutkan ke strata 2. Penolakan bapak pun semakin kuat ketika adik saya melangkahi saya dan menikah lebih dulu, saya dapet pelangkah handphone mahal dari adik saya, tapi saya jual untuk menyelesaikan film saya... Jadi saya pikir, kalau saya punya adik perempuan banyak, pasti saya dapat pelangkah lebih untuk bikin film yang lebih baik... hehe.

Dan saat adik saya menikah itu, eyang berkata pada saya, bahwa di keluarga kami ada darah seni, buyut saya dulu jago melukis, begitu kata eyang saya. Dan bapak saya cuma terdiam. Eyang pun berkata, kalau mau jadi sutradara film, saya harus mencontoh Deddy Mizwar. Dimata eyang, Deddy Mizwar itu sutradara yang juga melakukan syiar agama lewat film-filmnya. .. Saya cuma manggut-manggut. .. Saya bilang ke eyang, saya punya VCD film Naga Bonar dan kami menonton bersama, di malam adik saya menikah...

Dua pekan selanjutnya, saya dan eyang menonton Extravaganza malam Minggu. Eyang mengulangi lagi pesannya itu. Kalau mau jadi pembuat film... bla-bla-bla. .. contoh Deddy Mizwar yang tampil sebagai bintang tamu di Extravaganza edisi malam itu.

Minggu siangnya, 27/05, saat mengantar pacar saya belanja bulanan. Pacar saya menunjukkan novel Naga Bonar jadi 2 karya Akmal Nasery Basral seraya cemberut, katanya, saya sudah ingkar, janji saya mengajaknya nonton film Naga Bonar Jadi 2 nggak terwujud. Saya pun minta maaf berkali-kali padanya seraya berjanji akan membelikannya VCD film itu nantinya... Marahnya pacar saya semakin menjadi-jadi kala handphone saya berbunyi, saya berusaha tak buru-buru membuka sms yang masuk itu. Saat pacar saya lengah, saya pun membacanya, ternyata sms dari om Akmal...

Dan kurang lebih empat jam kemudian, saya sudah di dalam sebuah pasar bernama Jejeran, 7 km arah Selatan Yogya dengan hidangan sate klatak di meja. Di depan saya, duduk Naga Bonar...

Sekali dia berkata APA KATA DUNIA?!
Dan, APA KATA BAPAK YA?!

(kata Kyai Nassruddin Ch Anshory; "tangan-tangan malaikat melapangkan jalan Fajar...")

99 TICKETS, POPCORN AND THE FILMMAKER: "HISTORY OF THE WORLD IS THE BIOGRAPHY OF THE GREAT MEN"


Ini kisah tentang Andra. Anak kuliahan yang mengaku film adalah bagian dari hidupnya. Tak peduli ayahnya sekalipun, dengan tegas mengatakan bahwa tak ada darah seni dalam keluarga mereka dan tak percaya bahwa anaknya akan sukses dengan pilihan hidupnya, menjadi sutradara film. Masa kecilnya dimulai dengan menonton midnite film-film India setiap malam minggu bersama seorang mahasiswa yang ngekos di rumahnya. Dan langkah dewasanya mulai ditemani tiket-tiket bioskop dari film-film yang ditontonnya dan selalu disimpannya di dompet. Semuanya berjumlah 99 tiket dan ia berjanji bahwa tiketnya yang ke 100 adalah tiket film yang Andra sutradarai.

Kini, tibalah saat menentukan jalan hidup, dimana kedua orang tuanya mulai gerah karena Andra tak kunjung menyelesaikan studinya di bangku kuliah. Mariana, kekasihnya pun pergi meninggalkan Andra dan memberinya sebuah handycam sebagai hadiah perpisahan. Sendiri, Andra berniat meneruskan langkahnya, keluar dari bangku kuliah dan bertualang ke Jakarta. Dalam perjalanan, Andra berkenalan dengan seorang gadis cantik bernama Celia yang berambisi menjadi supermodel. Mereka berdoa saling mendoakan untuk kesuksesan mereka nanti.

Tapi jalan mereka berbeda, Celia sukses saat melewati sebuah casting dan menjadi bintang iklan sebuah brand terkenal. Sementara Andra, hanya bekerja sebagai freelance di produksi-produksi film. Tapi Andra kadung jatuh cinta pada Celia, hingga dengan handycam pemberian Mariana, Andra memutuskan untuk membuat sebuah film pendek yang akan dipakainya untuk mengungkapkan cinta..

Andra pun kembali kecewa, karena ternyata Celia sudah memiliki kekasih seorang musisi terkenal. Kesedihan Andra yang berlarut-larut membuatnya lupa akan pekerjaannya, sehingga Andra dipecat dari produksi sebuah film. Akibatnya Andra tak mendapatkan honor dan tak mampu membayar sewa kamar kosnya.

Akhirnya Andra tinggal di sebuah bioskop tua tempat dia biasa menonton film India.. Dalam sebuah kesempatan, Andra curhat kepada Pak Warsono, pegawai gedung bioskop yang mengijinkan Andra untuk tinggal di situ tentang cita-citanya menjadi sutradara film. Dalam perbincangan itu, Pak Warsono menanyakan apakah Andra sudah memiliki ide cerita untuk filmnya kelak? Andra menggeleng, dan Pak Warsono menyarankan Andra untuk menuliskan dulu ide cerita impiannya. Lalu, berbekal resep yang semalam diutarakan Pak Warsono, Andra mulai mencari ide cerita untuk ditawarkan kepada para produser. Sebuah ide yang kata Pak Warsono merupakan obsesi terdalam Andra!

Maka, disela-sela aktivitasnya membantu Pak Warsono membersihkan bioskop itu, Andra mulai menuliskan kisah idamannya Dan akhirnya, Pak Warsono bercerita, bahwa untuk menawarkan ide ceritanya nanti, Andra harus menemui para produser-produser film. Dan saat yang tepat dimana para produser berkumpul di suatu tempat adalah pada saat premiere sebuah film baru digelar! Semangat Andra pun makin berapi-api. Dari suratkabar, Andra membaca bahwa sebuah film akan segera di launching beberapa hari lagi. Maka, walau dengan berat hati, dengan diantar Pak Warsono, Andra menjual handycam pemberian Mariana untuk membeli satu stel baju pantas, membayar rental komputer untuk mengetik ide cerita yang diberinya judul Bidadari Dalam Kereta, kisah yang kurang lebih menceritakan perjalanan cinta Andra yang kandas: Celia.

Malamnya, usai premier, Celia yang kebetulan bertemu dengan Andra membawanya menemui sosok setengah baya bernama Romy Perdana, seorang produser film yang hadir malam itu. Pucuk dicinta ulam pun tiba, Pak Romy antusias berkenalan dengan Andra dan bersedia untuk membaca naskah yang dibawa Andra. Ia berjanji untuk menghubungi Andra dikemudian hari.

Beberapa hari kemudian, Andra sudah berada di kantor produser Romy Perdana. Produser itu langsung menyatakan sangat tertarik dengan kisah berjudul Bidadari Dalam Kereta yang ditulis Andra. Dan Romy berniat mengangkat kisah itu ke layar lebar, tapi tidak sekarang. Saat ini, Romy Pictures punya rencana untuk memproduksi sebuah film horror berjudul Nisan Berlumur Darah dan Andra diminta untuk menjadi sutradaranya. Andra tentu sangat senang dengan kabar gembira itu, terlebih lagi, pemeran utama wanitanya adalah Celia.

Dan begitulah, produksi film Nisan Berlumur Darah telah dimulai, dengan keseriusan dan semangat tingkat tinggi, Andra mengerjakan film horror itu. Walau bermandi keringat, Andra tetap menjalankan proses produksi tanpa mengeluh. Apalagi Celia bermain sangat baik dan sungguh sempurna di mata Andra. Lawan main Celia dalam film horror arahan Andra itu adalah seorang aktor muda terkenal bernama Demon. Sampai hari ketiga, saat semua berjalan lancar dan sempurna di mata Andra, sutradara muda itu hendak menemui Celia secara khusus setelah syuting berakhir dan mengajak wanita itu makan malam. Andra hendak mengetuk kaca mobil Celia ketika mendadak ia sadar mobil mewah di hadapannya bergoyang pelan. Jantung Andra berdegup dan segera meraih panel pintu mobil lalu menariknya kuat-kuat. Di jok depan mobil, Celia tengah bercinta dengan Demon.

Malam itu, kelelahan tiba-tiba seperti menjalar dua kali lipat di urat nadi Andra. Dengan gontai, Andra melangkah menuju bioskop Pak Warsono yang akan segera digusur

Tiba-tiba seluruh lampu di ruangan itu menyala. Pak Warsono berdiri di depan pintu darurat lengkap dengan alat-alat kebersihan. Beliau menanyakan apa yang sedang dilakukan Andra di sini dan bukannya menyutradarai filmnya. Andra menjawab bahwa ia hanya sedang beristirahat sebentar. Pak Warsono kemudian mendekati Andra dan Duduk di sebelahnya. Pak Warsono lalu memberi ucapan selamat kepada Andra. Kini Andra telah menjadi seorang sutradara. Tapi Andra menggeleng, dirinya bukanlah seorang sutradara, bahkan masih jauh dari impiannya sebagai sutradara, karena film yang tengah dibuatnya belum selesai, bahkan kemungkinan besar tidak akan dia selesaikan dengan alasan Andra kecewa dengan perbuatan Celia. Semula, Andra berharap setelah film Nisan Berlumur Darah selesai diproduksi, ia akan berhasil menggandeng Celia sebagai pacarnya dan menunjukkan semua itu dihadapan Mariana. Pak Warsono tersenyum mendengar kisah Andra. Menurutnya, Andra benar-benar tidak pantas menjadi seorang sutradara. Karena seorang sutradara haruslah berkarya dengan hati, mengerjakan sebuah film yang ceritanya memiliki idealisme.

Tiba-tiba Pak Warsono membungkuk dan mengambil sesuatu dari lantai. Tangan Pak Warsono menggengam kotak popcorn ketika diangkat. Ia tersenyum heran karena masih bisa melihat kotak popcorn di gedung ini. Sesuatu yang langka sejak beberapa tahun belakangan. Dilihatnya isi kotak itu, ternyata masih tersisa sebutir popcorn di dalamnya. Pak Warsono mengeluarkan popcorn itu lalu menunjukannya ke Andra. Ia kemudian berkata kepada Andra bahwa dari sekotak popcorn kita bisa mengetahui kualitas sebuah film. Semakin lama seorang penonton menghabiskan sekotak popcorn, maka makin bagus film yang ia tonton. Dan semakin cepat habis popcorn yang ia punya, maka semakin tidak betah si penonton untuk menyaksikan film yang diputar sampai selesai. Sekarang tinggal tergantung pilihan Andra. Ingin membuat film yang bagus atau yang buruk sehingga penonton lebih tertarik untuk menghabiskan popcornnya daripada menonton film Andra. Dan yang pasti film horror merupakan film yang paling cepat menghabiskan sekotak popcorn. Karena popcorn itu terlanjur berhamburan sebelum sempat dinikmati.

Andra benar-benar tersadar akan apa yang dikatakan Pak Warsono. Ia kini mempunyai tekad kuat untuk menyelesaikan filmnya. Bukan untuk Celia atau siapa pun, tapi hanya untuk dirinya. Andra kemudia mohon diri kepada Pak Warsono. Sebelum keluar dari gedung itu, Andra membalikkan badan dan bertanya kepada Pak Warsono kenapa di bioskop ini tidak menjual popcorn lagi. Pak Warsono yang mendengar pertanyaan Andra tersenyum dan kemudian berkata bahwa sekotak popcorn yang rata-rata berisi 150 butir tidak pernah akan cukup untuk durasi film India.

Sebulan kemudian, tepat sehari sebelum Bioskop tua itu dirobohkan. Orang-orang ramai berdatangan ke bioskop tua Pak Warsono. Mobil-mobil mewah parkir dihalaman bioskop itu, wajah-wajah selebritis pun tampak lalu lalang. Poster-poster film berjudul Nisan Berlumur Darah tampak terpasang dimana-mana. Lalu, setelah semua undangan duduk dengan wajah aneh di bangku-bangku rapuh gedung bioskop tua itu, Andra berjalan ke barisan paling depan. Sebelum membuka mulut untuk berkata-kata, Andra melihat Mariana melangkah masuk menuruni tangga, Andra tersenyum agak kecut, karena Mariana tampak menggandeng seorang gadis kecil.

Dan, Andra memulai pidato pembukanya dengan mengucap maaf, bahwa premiere terpaksa dilakukan di bioskop tua itu sebagai tanda perpisahan karena besok pagi, gedung bioskop itu akan dirobohkan. Setelah itu film THE FILMMAKER di putar. Sebuah film yang bercerita tentang perjalanan seorang pria yang mengejar impiannya menjadi seorang sutradara film layar lebar, impian pria itu terwujud dan film pertama yang dibuat tokoh dalam film itu berjudul Nisan Berlumur Darah…

Begitu film selesai, hadirin memberi applause dan selamat kepada Andra, tapi tidak dengan Romy Perdana dan para stafnya yang langsung menghampiri Andra dan mengungkapkan kekecewaan mereka. Andra dianggap telah menipu produsernya karena membuat film yang bukan bergenre horror seperti perjanjian semula! Tapi Andra tak peduli, hatinya telah merasa puas dan bahagia. Terutama ketika mendapat ucapan selamat dari Mariana. Kekasih lamanya itu menghampirinya sambil menggendong gadis kecil yang tertidur di pelukkanya. Mariana mengucapkan selamat dengan mengecup pipi Andra. Spontan Andra membalas ucapan terimakasih Mariana dengan senyum tipis seraya bertanya mana suami Mariana, ayah dari gadis kecil yang digendongnya. Mariana terperanjat, akankah Andra lupa dengan Ghea? Keponakan Mariana yang dulu sewaktu mereka berpacaran masih bayi berumur tujuh bulan?

Beberapa hari kemudian, Andra berjalan masuk ke sebuah bioskop. Ia segera menuju loket dan membeli tiket. Setelah itu ia membeli sekotak popcorn lalu duduk menunggu di salah satu sofa yang telah disediakan. Mulutnya tampak sibuk mengunyah popcorn yang tadi ia beli. Tak terasa popcorn itu kini hanya tersisa sebutir. Tiba-tiba suara Maria Oentoe membahana. Dilihatnya tiket yang tadi ia beli. Judul film di tiket itu tertulis The Filmmaker. Andra tersenyum bangga membaca tulisan di tiket itu.. Andra kemudian memakan butir terakhir dari popcornnya lalu bergegas pergi menuju tater yang akan memutar filmnya.

:A FILM STORYLINE BY FAJAR NUGROSS
:DEVELOPMENT STORY BY OSCHA MOROON

Wednesday, May 23, 2007

Six Month of Mati Bujang Tengah Malam




Ini poster film terbaru saya, belum poster resmi sih. Harusnya sang aktor menjalani sesi pemotretan khusus poster, tapi usai syuting, ternyata Eross potong rambut tanpa sadar. Akhirnya daripada nggak sesuai dengan potongan rambut dalam filmnya, kita tunda dulu sesi foto-foto untuk kepentingan poster dan pernik promonya.

Sejak tercetus pada bulan November 2006 untuk dibuat film, proyek Mati Bujang Tengah Malam kini tinggal selangkah lagi untuk selesai dan siap dishare kepada publik, dikirim ke festival-festival yang sesuai. Persis enam bulan untuk film berdurasi sekitar 45 menit ini (versi festivalnya 30 menit).

Terimakasih untuk seluruh kru yang terlibat dan percaya serta mendukung setiap keputusan sang sutradara. Terimakasih pula untuk para pemain, mulai Eross Candra, Artika Sari Devi, Grace Natalie hingga Memed Jantan August, Rendi Ferdinal dan Aditya Novikasari, para cameo dan pemeran pembantu yang gak bisa disebut satu demi satu. Tak lupa saya harus minta maaf, jika setelah berakting dengan sungguh-sungguh, ternyata demi kepentingan mood film secara keseluruhan, editing harus membuang gambar-gambar bagus penuh dedikasi dan keringat baik dari para kru dan aktor aktrisnya yang terlibat. Percayalah, semua demi kepentingan pencapaian hasil yang maksimal secara subyektif dari kacamata editor, director dan produsernya...

Sampai detik ini, melihat hasil editing dan mencocokkannya dengan blackbook pra produksi, saya sadar bahwa 90 persen rencana syuting telah tercapai. Ada sedikit yang meleset dari rencana, dan itu menjadi catatan berharga untuk produksi selanjutnya, di level selanjutnya pula...

Selamat menonton nantinya dan semoga terhibur, dapat menikmati tanpa merasa perlu untuk berusaha suka...

Fajar Nugross
23/05/07

Wednesday, March 14, 2007

POSTER RESMI PRA-PRODUKSI

untuk kepentingan sponsorship dan seputar pra produksi

Sunday, January 28, 2007

Mati Bujang Tengah Malam: Cerpen Original 2005

Thursday, December 22, 2005

Cerpen Keren yang Dicekal
Heran deh.. kenapa sih banyak kreativitas yang dicekal. Dan semua gara-gara kekhawatiran yang berlebihan. Takut masyarakat begini lah, takut masyarakat begitu lah. Padahal, semua orang tahu, cerita fiktif itu artinya cuma bohongan.. Jadi, kenapa harus dicekal? Kayak cerpen bikinan Fajar Nugross ini. Awalnya, Mati Bujang Tengah Malam mau diterbitkan di sebuah tabloid mingguan di Jogja. Tapi, gara-gara ceritanya yang menyinggung soal bom Bali, cerpen ini nggak boleh naik cetak.Pengin tahu cerpennya? klik langsung link di bawah ini. Kelar itu, pilih open, and just enjoy it!
cerpen mati bujang tengah malam-i will always try to love my day-
kamu lagi ngebaca tulisan azzhole yang dibikin jam 12:20 PM

2 Comments:
awan asmara ngebacot...
Lha iya ziz, padahal cerpennya bagus lho. Apalagi waktu pendeskripsian kalau tokoh utamanya adalah mahasiswa yang lulus cumlaude tapi susah dapet kerja. Wih saya langsung mengucap syukur. Kita kan sudah dapet kerjaan kan? he he hePlus betapa nistanya saat si mahasiswa cumlaude juga harus kehilangan kekasihnya. Melasse. Jadi deh dia meledakkan diri aja. Sebuah perbuatan yang layak menjadikan dia the real loser of the world......

---

Yup, tulisan diatas di copy paste dari sebuah blogs berikut: http://azizonblog.blogspot.com/2005/12/cerpen-keren-yang-dicekal.html saya temukan ketika iseng-iseng mengetik kata 'nugross' di google. Menjadi menarik buat saya karena cerpen Mati Bujang Tengah Malam saya tulis pada 15 November 2005 pukul setengah dua dini hari. Kemudian ditolak untuk dimuat oleh redaktur sebuah surat kabar mingguan di Jogja. Dan akhirnya, cerpen itu saya masukkan menjadi bagian dari 8 cerpen lain dalam novel Buaya Jantan.

Namun nasib Mati Bujang Tengah Malam tidak berhenti, saat ini, oleh konsorsium kreatif bernama Democratic Cinema, naskah cerpen itu tengah di godog menjadi sebuah skenario film oleh Donny Prasetyo. Dan sebelum menyimak film berdurasi 24 menit berjudul sama di pertengahan tahun 2007 nanti, ada baiknya kita membaca dulu cerpen Mati Bujang Tengah Malam draft originalnya sebagai berikut:

Mati Bujang Tengah Malam
---Fajar Nugross---


Sebagai laki-laki berumur 25 tahun, menjadi salah
satu mahasiswa yang lulus dengan predikat cumlaude,
Armand merasa seharusnya masa depan lebih baik dari
pada kenyataan yang dialaminya sekarang. Tapi
kenyataan berkata lain. Apa yang disebutnya bencana
itu sudah Armand rasakan di hari wisudanya, tepat
setelah Rektor menyematkan pin emas di dada kanannya
sebagai symbol bahwa dirinya menyandang gelar
cumlaude. “Sekarang, kalian kembali ke masyarakat,
memasuki medan perang baru, apa yang didapat di bangku
kuliah, belumlah menjamin, tapi setidaknya kalian
punya modal untuk bertempur nanti!” kata sang Rektor
tegas dan jelas.
Itu tiga tahun lalu, kini terbuktilah sudah apa
maksud perkataan sang rektor, ilmu yang didapatnya di
bangku kuliah, sama sekali tak menjamin, pin emas
tanda gelar cumlaude telah berselimut debu di laci
mejanya. Bahkan pin emas itu hampir dia jual dan
uangnya dia belikan sebungkus rokok, menurut Armand
niat itu malah akan membuat pin emas itu berguna!
*
“Itu sudah harga paling tinggi Man, kita kan teman,
nggak mungkin lah aku memberi harga rendah!” seru
Broto mencoba meyakinkan. Armand mengelus-ngelus lagi
monitor komputer yang telah menemaninya selama dia
duduk di bangku kuliah, komputer yang membantunya
menyelesaikan banyak tugas dan terakhir bekerja keras
untuk skripsinya itu harus dilego demi menyambung
usaha Armand membeli amplop coklat untuk diisi lamaran
pekerjaan.
*
Armand merasa, kini tangannya sudah menebal seinci
lebih karena sisa lem kertas yang mengering menempel
dijari telunjuknya. Puluhan amplop berwarna coklat
berisi lamaran pekerjaan sudah tersusun rapi diatas
meja disebelah foto mantan pacarnya.
“Kita putus!” begitu vonis Amelia, cewek yang sudah
bertahun-tahun mendampinginya, bahkan Amelia juga yang
berdiri disamping Armand saat Rektor menyematkan pin
emas dulu. Tapi masa-masa indah itu telah berlalu
seiring pin emas tertutup debu, seperti pertanda bahwa
masa depan Armand pun tak kunjung menuai jaman
keemasaannya. Amelia kemudian menyusul Armand diwisuda
dan seperti halnya wanita yang sadar akan kelebihan
paras dan tubuhnya, tak perlu pin emas tersemat di
dada karena apa yang tersenyembunyi di balik baju
Amelia adalah gunung emas yang diincar setiap lelaki
berposisi penting di tiap perusahaan besar. Lalu,
untuk apa Amelia tetap berada disampingnya? Tinggallah
Armand sendiri.
*
“Punya pengalaman kerja?”
Armand menggeleng. Menerima kembali lamarannya dan
beranjak dari kursi ruang personalia itu. Ini
penolakan ke sekian yang diterima Armand.
“Kami kagum dengan Indeks Prestasi kelulusan kamu,
luar biasa!” puji kepala bagian personalia di kantor
lain. “IPK saya saat lulus juga hampir segitu, nyaris
mendapat pin emas saat wisuda, kamu punya pin emas
itu?”
Armand mengangguk mantap, akhirnya pin emas itu ada
gunanya juga, pikir Armand.
“Jadi, lamaran saudara saya simpan dahulu,” lanjut
lelaki itu. “Saya taruh di tumpukan teratas pokoknya,
jadi kalau ada penerimaan pegawai baru, saya langsung
memanggil saudara!”
“Terimakasih Pak,” jawab Armand tegas dan mantap,
secercah harapan mulai mengisi benaknya.
Begitu Armand pergi, lelaki itu segera melempar surat
lamaran Armand ke tong sampah. “Pegawai baru dengan
IPK segitu, bisa mengancam posisiku!” jerit lelaki
itu.
*
Tiba dikamar kosnya yang kelam, Armand menerima
setumpuk surat yang dikirim petugas pos. Selembar
surat dari desa membuat suasana kamarnya semakin
gelap. Itu surat dari bapak di desa.
“Kami sudah menjual sawah dan seluruh sapi yang kami
punya untuk membiayai kamu kuliah, sekarang bapak dan
ibu kesusahan di desa, kemarin ibumu antri untuk
mendapatkan Bantuan Langsung Tunai, tapi
terdesak-desak sampai harus opname di rumah sakit.
Kamu sudah mendapatkan pekerjaan belum Man? Kalau
belum, pulang lah ke desa, siapa tahu namamu juga bisa
dimasukkan dalam daftar orang-orang miskin yang
menerima bantuan itu, karena kita butuh biaya, adikmu
juga mulai masuk sekolah…” Sebutir air bening
mengalir dari sudut mata kanan Armand.
*
“Kamu pernah membaca novel Count of Monte Cristo?”
Armand menggeleng mendengar pertanyaan yang diberikan
lelaki misterius yang dijumpainya di jalan tadi. Entah
mengapa, Armand merasa nyaman terhadap sosok lelaki
itu, keramahan lelaki itu membuat Armand membawanya
masuk kedalam kamar kosnya yang sempit. Lelaki itu
bergerak cepat kearah jendela kamar, dan menurunkan
tirainya. Wajahnya tak terlihat jelas karena cahaya
matahari terhalang masuk.
“Sang Count selalu menerima penderitaan yang terjadi,
tak pernah mengeluh akan penghinaan dan terus
bersabar, sampai ketika kesempatan datang.” Ucapan
lelaki misterius itu terdengar jelas, Armand merasa
hidupnya tengah dirangkum oleh lelaki itu. “Aku akan
menjadikanmu lelaki yang berguna bagi keluargamu.”
*
Armand membuka surat yang dikirimkan ayahnya dari
desa.
“Kami berharap kamu ada diantara kami Man, saat
rejeki dari Tuhan itu datang, tiba-tiba saja,
sekeluarga di desa masuk televisi, itu lho Man, acara
yang memberi uang jutaan rupiah untuk dibelikan
bermacam-macam kebutuhan, jadi kami tak perlu antri
dana kompensasi lagi Man, juga ada biaya untuk
pengobatan ibumu…” demikian ayah Armand menulis kabar
yang tak lagi membuat Armand menangis.
*
Beberapa minggu kemudian, “Lihat televisi Man,
sekarang!” seru ibu kos histeris. Armand segera
berlari ke ruang utama, tempat ibu kos dan beberapa
anak lain tengah menonton acara reality show. Armand
terperangah ketika melihat rumahnya didesa ada dalam
tayangan itu. Sebuah program acara yang merubah
rumah-rumah reyot menjadi lebih baik.
*
Sebulan kemudian, sebuah surat datang lagi kepada
Armand. Kali ini dari adik bungsunya yang mulai masuk
kuliah.
“Mas Armand, Sari di desa kini bisa sekolah lagi,
kemarin Sari dapat beasiswa, juga bantuan untuk
membayar segala tunggakan yang selama ini menumpuk di
sekolah…”
Armand menghentikan membaca surat itu. Pintu kamarnya
diketuk. Sekejap setelah pintu dibuka oleh Armand,
sosok lelaki misterius itu masuk kedalam kamarnya.
Langkahnya hampir tak bersuara. Seperti dulu, lelaki
itu segera menutup tirai jendela kamar Armand.
“Sekarang kamu sudah menjadi anak yang berguna bagi
keluargamu. Mereka hidup layak, punya modal yang cukup
untuk meneruskan hidup dan adikmu terjamin masa
depannya.” Lanjut lelaki itu.
“Mereka bahagia sekarang,” jawab Armand pendek.
“Tapi kami tak bisa membahagiakan seluruh rakyat
bangsa ini Man, jadi kami membutuhkanmu untuk membuat
headline baru di koran-koran pagi besok.” jawab lelaki
itu sambil melepas kemejanya. Armand segera melihat
sebuah rompi hitam membalut tubuh lelaki itu. Lelaki
itu kemudian melepas rompi yang dikenakannya, lalu
menyodorkan kepada Armand.
*
Entah sudah berapa lama, Armand berputar keliling
menyusuri jalanan kota bersama lelaki itu, mereka
menaiki sebuah taksi yang menurut Armand mungkin telah
di sewa oleh lelaki misterius disampingnya. Tepat
tengah malam, Armand turun dari taksi yang berhenti
didepan sebuah restoran pinggir jalan. Langkahnya
begitu mantap, semantap tangannya yang menggenggam
erat tali kenur berwarna hitam diujung sebelah kanan
rompinya. Perintah lelaki misterius itu cukup jelas,
masuk kedalam restoran itu dan tarik tali yang
digenggamnya sekuat mungkin.
“Tak akan terasa, tiba-tiba kamu sudah berada di
surga,” bisik lelaki misterius itu, sesaat sebelum
Armand membuka pintu taksi dan turun.
Hiruk-pikuk pengunjung restoran mulai memenuhi
gendang telinga Armand. Tiba-tiba suara-suara itu
hilang, yang ada hanya teriakan bahagia adiknya bisa
melanjutkan sekolah. Lalu terbayang senyum bahagia
kedua orang tuanya. Ayahnya seperti hendak mengatakan
sesuatu tapi Armand tak mendengar, Armand berusaha
membaca gerak bibir ayahnya. Kami bangga padamu Man!
Itu kata ayahnya, Armand tersenyum, lalu menarik tali
diujung rompi yang dipakainya kuat-kuat…
Blaaar!!!
***


(Mati Bujang Tengah Malam; 15 November 2005; 01:30 WIB)

Saturday, January 13, 2007

Sama Sempurna

Awal 2007 ini saya mendapatkan keberuntungan, tiba-tiba ikut sebuah produksi iklan komersial televisi (TVC). Sutradaranya bule, George M (asal Aussie berumur 64 tahun ini spesialis rokok katanya), jabatan saya sederhana sih dalam proyek ini, baru 2nd-2nd Assistant Director Tino Soeranggalo, another Toraja's Guy setelah bos saya di Fictionary, Sakti Parantean Salulinggi itu... Seperti sebuah workshop buat saya sebelum mengerjakan fiksi Mati Bujang Tengah Malam...

Tuesday, December 12, 2006

Realita, Cinta dan Sinema Rock n' Roll







dari seluruh film fajar nugross

Thursday, December 07, 2006

Manusia Setengah Dewa di Mata Cewek Bandung!


Selama 4 hari, saya mengisi workshop dengan label paling keren dari seluruh workshop yang pernah saya isi, setelah Cool Cinemaking di UKSW pada tahun 2005 lalu, kini Cinematography Club Fakultas Ilmu KOmunikasi Unpad menggelar workshop berlabel `Show Who You Are, With Your First Movie`.

Di akhir acara itu, diputar film dokumenter `Manusia Setengah Dewa` dan berikut adalah sejumlah komentar para anggota baru Cinematography Club Fikom Unpad itu tentang film Manusia Setengah Dewa:

Liat film ini kita jadi tahu sedikit tentang bencana yang sudah terjadi di Yogyakarta, dibalik sebuah realita. Bikin dokumenter terus yang mengungkap suatu realita, supaya kita jadi tahu sesuatu

(S. Ratna Dewi – garfiel-na@yahoo.com)

lagi-lagi mencerahkan persepsi saya soal dokumenter...

(Angga Eka Harnizar – ae69@yahoo.com)

Jadi lebih tahu ttg Jogja, kalo dari buku malah gw nggak ngerti...

(Riri – riri_soen@yahoo.com)

I love all about your documentary film, tetap berkarya... MSD amazing! Bisa enak di tonton...

(Latifah Amianti – tifa_ami2001@yahoo.com)




(next comment akan segera di posting - next workshop: 14 Desember di Avikom UPN Yogyakarta)

Monday, November 20, 2006

The Clues Are Right in Front of Your Eyes!

Title Indonesia:
Manusia Setengah Dewa

English Title:
Half God - Half Human

Duration:
30 Minutes

Language:
Bahasa Indonesia
(with english subtitle)

Sinopsis:

Sejak menancapkan kekuasaan di tanah Jawa, perjalanan panjang Dinasti Mataram selalu dipenuhi dengan pertikaian. Sejarah mencatatnya sebagai 'ontran-ontran' Dinasti Mataram. Salah satu ontran-ontran itu, mengakibatkan Dinasti Mataram terbelah dua. Melahirkan kerajaan baru, juga raja baru yang bertahta. Film ini dimulai 250 tahun kemudian setelah raja baru dan keturunannya bertahta, tepat setelah kerajaan baru Dinasti Mataram itu usai dilanda bencana besar... Kembali ke masa lalu, menyusuri Jalan Pangeran Mangkubumi, untuk menemukan sosok 'Manusia Setengah Dewa'. Dan saat kembali menatap masa depan, kerajaan baru itu harus siap melangkah dengan sebuah budaya baru...

Director Notes:

Kata gue, film ini akan membawa lo kembali ke masa lalu. 250 tahun lalu lebih sedikit. Bahkan dari Jogja, kisahnya akan dibawa ke Keraton Mataram Surakarta yang letaknya 62 kilo meter di Timur kota Jogja. Tanya sana-sini pada keluarga kerajaan, tapi akhirnya kita sadar bahwa pencatat yang lengkap adalah para ahli sejarah. Semua dilakukan untuk mengenal sosok yang tahun 2006 ini mendepat gelar 'Pahlawan Nasional' dari Pemerintah Republik Indonesia, karena dengan mengenal sosok itu, kita akan menjadi tahu, mengapa pada tahun 2006 ini rakyat Jogja harus menanggung bencana yang ditulis koran sebagai ' Derita Zaman Ini'. Sosok yang akhirnya terungkap itu memang telah tiada berabad lampau, tapi warisannya, bakat-bakatnya masih menurun hingga kini. Bahkan, tanah tempat gue lahir ini, juga menciptakan raja-raja kecil yang kekuasaannya lebih dahsyat dari Tuhan, gempa mengakibatkan ribuan rumah rata dengan tanah, dan raja kecil itu pun tak mau kalah, meratakan tujuh rumah dengan tanah juga. Kata gue, sejak dulu, rakyat lah yang menanggung derita bagi penguasa yang berjaya.

Setelah melewati keberuntungan beruntun sehingga dapat mengikuti berbagai workshop film dokumenter. Manusia Setengah Dewa adalah dokumenter gue berikutnya. Emosi saat menyelesaikannya berapi-api, footage-footage nya datang sendiri menghampiri. Lapar tak terasa, rokok yang dihisap habis pun biasa. Intinya, jika kamu pernah nonton Jogja Needs A Hero, film ini lebih dahsyat dari itu. Ada banyak jawaban mengapa kota Yogyakarta bisa berdiri, mengapa kerajaan itu bisa berstatus Daerah Istimewa, dan mengapa tanah bencana ini dipilih untuk mendirikan sebuah kerajaan baru...

So, seperti tagline Minority Report; This Year Everybody Runs! Maka begitu juga rakyat Jogja pada tahun 2006 ini. Sesungguhnya, kado untuk 250 tahun kota Jogja bukanlah gempa... Bukanlah bencana...

Enjoy the movie guys, the clues are right in front of your eyes!


*** jika masuk nominasi film Manusia Setengah Dewa bisa kamu saksikan di ajang Festival Film Dokumenter, 12 Desember 2006 di Jogjakarta.

Behind The Scene: Manusia Setengah Dewa

A Documentary Film by Fajar Nugroho
















Proses produksi film dokumenter 'Manusia Setengah Dewa' akhirnya selesai juga. Konsep awal film yang akhirnya berdurasi 30 menit ini memang telah ada sejak Juni 2006 lalu, waktu itu, judul sementaranya adalah 'There's No Hero in Jogja'. Tapi dari beberapa masukan, judul 'There's No Hero in Jogja' cenderung berbau sama dengan 'Jogja Needs A Hero'.

Akhirnya, selama riset, saya memakai judul 'Jalan Pangeran Mangkubumi'. Judul baru itu pun kandas, karena setelah saya rasa-rasakan, judul itu nggak masuk di benak saya. Juga sangat nggak menarik untuk didengar. Ditambah kekhawatiran menyinggung perasaan keluara kerajaan.

Maka saat proses editing benar-benar dimulai, keluarlah judul 'Manusia Setengah Dewa' itu. Berdasarkan pengertian, bahwa orang Jawa dulu sangat percaya bahwa para raja adalah wakil Tuhan di dunia. Sekilas terdengar mirip lagu Iwan Fals, benar juga, tapi lagu Iwan Fals ditulis 'Manusia 1/2 Dewa'. Sekilas juga diingetin jangan-jangan ntar di demo kayak lagu Iwan Fals itu, tapi jangan lupa, lagu Iwan Fals di demo kaum muda Hindu Bali karena mencantumkan gambar salah satu Dewa suci agama Hindu.

Materi wawancara memang sudah terkumpul sejak sebelum bulan puasa. Interviu terakhir dilakukan pada seorang cewek muda bernama Sarah Diorita pada Sabtu 6/11 lalu. Sarah ini harus menerima 19 jahitan di lengan kirinya karena terjatuh saat gempa susulan. Mungkin ada yang lebih parah akibat gempa itu, tapi menjadi menarik karena Sarah adalah cewek Indonesia keturunan Perancis. Dan darah Perancis itu diwarisi dari ibunya yang juga penulis buku terjemahan Seri Serat Centhini.
Narasumber menarik lain juga berhasil saya dapatkan untuk memperkuat cerita film ini. Misalnya, disela produksi dokumenter 'Kerajaan di Tepi Bengawan' saya berhasil mewawancarai sedikit dua angota keluarga Dinasti Mataram Surakarta yaitu Gusti Kanjeng Ratu Timur dan Gusti Kanjeng Ratu Wandansari mengenai sosok yang menjadi tema utama film 'Manusia Setengah Dewa' ini.

Bahkan, jauh-jauh hari sebelumnya, saya berhasil merekam aktivitas Putri Indonesia 2004, Artika Sari Devi saat memberikan bantuan kepada para korban bencana gempa di desa Semampir, Bantul. Artika saat itu memang menolak bila aktivitasnya didokumentasikan, apalagi bila bocor ke telinga infotainment. Tapi syukurlah, Artika akhirnya mau di wawancarai selama perjalanan di atas bak pick up yang menjemput di bandara hingga membawanya ke Bantul. 6 bulan kemudian, baru cuplikan aktivitas Artika di Bantul itu baru kita pakai di film ini.

Saya memang berjanji pada diri sendiri untuk bisa membuat sebuah karya film di tahun 2006 ini, juga berjanji untuk berpartisipasi pada helatan Festival Film Dokumenter yang dipunyai kampung halaman saya sendiri, Jogja. Maka, untuk kedua janji itulah 'Manusia Setengah Dewa' dibuat. Jika materinya sudah berhasil saya kumpulkan, kini waktunya mencari editor yang tepat. Dan, seperti biasa, Darwin Nugraha adalah sosok yang tepat. Sayangnya, kondisi Darwin tidak tepat untuk direpoti proyek 'Bandung Bondowoso' seperti ini. Apalagi Darwin sedang mengais rejeki di Jakarta.

Akhirnya, saya mencari sebuah production house di Jogja yang bersedia bekerjasama untuk menyelesaikan editing film ini, kesepakatan akhirnya di dapat, production house itu mendapat jatah title di depan film sebegai production house yang memproduksi film dokumenter 'Manusia Setengah Dewa' ini.

Secara keseluruhan, 'Manusia Setengah Dewa' melibatkan sepuluh kameramen, mereka adalah Sakti P Salulinggi, Agus Darmawan, Hari Adi Winarno, Komar, Topik, Purna Widayat, Santoso, Darwin Nugraha dan Jarot dan saya sendiri. Memakai banyak kamera mulai PD 170, XL One dan XL Two, handycam Panasonic hingga Sony.

Selama editing melelahkan 7 hari itu, pacar saya dengan setia menjadi seksi konsumsi, menyediakan makan nasi bungkus, selain di sela-sela itu, kami harus berhutang pada warung mie ayam di depan studio, juga setiap pagi di kirimi berbungkus-bungkus bubur ayam gratis sama kenalan saya yang jadi pedagang bubur. Sampai ketika seorang teman bersedia membantu mengisi musik untuk film ini karena tertarik sama jaket hijau militer merk Firebolt kepunyaan saya, padahal jaket itu juga pemberian seorang cewek pemilik distro kepada saya, ya sudah, akhirnya dengan dibayar sebuah jaket yang warna hijaunya sudah luntur menjadi cokelat karena seminggu dipakai menerjang debu di Bantul, film 'Manusia Setengah Dewa' bisa dihiasi musik.

Selesai saya melakukan editing off-line pada Senin 8/11, Taufik Arifiyanto datang untuk melakukan editing on-line. Film 'Manusia Setengah Dewa' ini harus kelar pada 15 November karena tanggal itulah deadline Festival Film Dokumenter 2006.

Semula, narasi film ini akan diisi suara seorang penyiar radio lokal. Sekaligus memanfaatkan fasilitas recording radio tersebut. Tapi karena padatnya pemakaian studio radio itu, recording suara narator harus dilakukan dengan menyewa studio KUA Etnika milik Djaduk Feriyanto. Kali ini, saya harus benar-benar mengeluarkan uang untuk menyewa studionya. Suara yang dipakai pun akhirnya suara vokalis band Orkes Moral The Produk Gagal, Gepeng Kesana-Kesini yang dilakukan pukul 11 malam hingga 3 dinihari. Dan Gepeng pun sukses hanya dibayar dengan sepiring nasi bandeng di lesehan jalan Solo pada jam 4 pagi itu. Setelah semuanya selesai, satu hal yang harus dilakukan pada satu malam terakhir, yaitu memberi subtitle Inggris agar film ini bisa melangkah kemana pun dia akan melangkah. Subtitle di kerjakan oleh Fully, yang harus melek dua malam berturut-turut tdiak saja menerjemahkan tapi juga lebih menjelaskan makna dari setiap kalimat film ini.

Ada beberapa hal yang perlu dicatat sebagai konsep dasar pembuatan 'Manusia Setengah Dewa'. Pertama, film ini alurnya juga memakai konsep imajiner yang terkenal di Jogja, yaitu poros Gunung Merapi dan Laut Selatan. Maka diawal, film ini memperkenalkan gunung Merapi, kemudian melewati Tugu dan akhirnya ke laut Selatan. Kedua, film ini tidak memuat gambar-gambar penderitaan akibat bencana gempa yang terjadi di Jogja bulan Mei lalu. Ketiga, film ini benar-benar dibuat oleh orang Jogja, dengan kacamata anak muda, untuk mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi di Jogja belakangan ini.

Terakhir, terimakasih saya tak terhingga kepada mereka yang telah berkenan meminjamkan kamera, meminjamkan komputer editing dan membantu proses produksi 'Manusia Setengah Dewa' ini.

Sunday, November 12, 2006

Dilarang Bikin Film Fiksi!

Saya pengen menulis sesuatu, tapi nggak ada ide... Karena dua minggu belakangan ini, otak udah terperas habis, mulai dari dikejar deadline naskah buku 'Dilarang Bikin Film Fiksi!' (Insya Allah bakal diterbitin ama penerbit Galang Press akhir tahun ini), juga dikejar deadline submit film yang akan ikut Festival Film Dokumenter 15 November depan, berarti deadline nya tinggal 3 hari ke depan, sedangkan saat ini, statusnya baru kelar rough cut 1... Masih banyak footage yang harus dikejar untuk ngelengkapin alur cerita yang udah kebentuk sejak dilembur dari hari kamis kemarin, at least malam minggu kemarin nggak ada pacaran, nggak ada malam mingguan.

But its oke, yang lagi dikerjain ini, adalah film dokumenter4/5. Bisa keempat kalo Kerajaan di Tepi Bengawan yang lagi di edit juga di Jakarta tapi lagi pending nggak ke itung, atau sebaliknya. Naah, film yang lagi saya edit di X-Code Films Jogja ini dokumenter juga, judulnya Manusia Setengah Dewa, dulu waktu masih tahapan konsep, saya pake judul Jalan Pangeran Mangkubumi, rupanya, setelah saya pikir-pikir, Jalan Pangeran Mangkubumi nggak ada selling pointnya, hehehe... So, saya rubah aja menjadi Manusia Setengah Dewa.

Kini Manusia Setengah Dewa, sedang tahap editing off-line, Sabtu kemaren, saya sukses mewawancarai pengalaman Sarah Diorita dan nyokapnya, Elisabet Inandiak yang juga penulis buku terjemahan kita Centhini itu. Lumayan keren juga hasilnya. Nah, beberapa jam setelah saya nulis ini, akan dilakuin sesi recording buat narasi yang suaranya bakal diisi sama suara vokalis band Produk Gagal, Gepeng Kesana-Kesini. Recording bakal dilakuin di studio Djaduk Feriyanto di daerah Bantul...

Besok senin, saya masih harus ngelengkapin footage biar mantap filmnya. Ini film pertama saya yang khusus dibuat untuk diikutsertakan dalam festival... Semoga bisa turut memeriahkan nantinya...

Saturday, October 14, 2006

Petualangan 20 Detik


Ibenk, editor saya, terbengong-bengong di depan monitor komputer yang memutar berulang-ulangfile AVI hasil syutingan berdurasi tidak lebih dari 20 detik itu. File 20 detik yang di repeat melulu itu,hanya menampilkan sosok cewek semampai bertopi krem, berkaos hijau ketat plus lengan berwarna putih, memakai jins hitam, melangkah di Jalan Slamet Riyadi kota Solo pada sore 7 September lalu. Kami menemukan rekaman kamera itu di Kaset Mini DV No 7 Kamera 2 yang berposisi di atas jembatan penyebrangan di jalan itu. Sosok itu melangkah sambil menyalami puluhan anak-anak yang merubungnya, sambil berusaha melepaskan diri dari kerumunan anak-anak itu, lalu sepersekian detik kemudian, wajahnya menoleh kearah kamera, dan... ini yang mengguncang agat dewa batara, dia melemparkan senyum! Sialan...

Kameramen kamera 2 saat itu adalah Sakti Parantean Salulinggi yang satu jam sebelumnya mendengarkan pesan lewat TalkAbout Motorola dari kamera 1 yang berposisi tiga kilometer lebih didepan kamera 2. Bahwa ditengah terik panas jalanan Solo hari itu, tertangkap sosok keren presenter Jejak Petualang. Hanya itu berita yang diterima Sakti, tak ada penjelasan tentang nama, tapi ingatannya menerima file berita hilangnya presenter Jejak Petualang dan kru nya di laut. Ini petikan berita Tabloid NOVA tentang peristiwa itu:

"Papua sana. Lima Hari Tim Jejak Petualang Hilang ISYARAT SI BUNGSU PEGANG-PEGANG BAJU Sebagian orang percaya, tanggal 6, bulan 6, tahun 2006 bisa mendatangkan pengaruh buruk. Siapa sangka, hari itu memang buruk bagi sebagian kru Jejak Petualang (JP) TV7. Badai besar datang menghantam kapal berisi 8 orang itu di Papua. Berkat pencarian yang tidak mengenal lelah, 4 orang dipastikan selamat."

Tak disangka, Sakti menemukan sosok presenter Jejak Petualang yang hilang itu di jalanan aspal panas di bawahnya. Tak menyangka pula, saya menemukan sosoknya terekam diantara 40 kaset mini DV stok film 'Kerajaan Di Tepi Bengawan' yang tengah saya edit. Maka, dengan fasilitas internet 24 jam yang tersedia di kantor, saya memburu fakta tentang sosok gadis ini, tabloid Bintang Indonesia menulis karakternya persis dengan apa yang terekam selama 20 detik itu:

"Di teve, sebagai presenter Jejak Petualang (JP,TV7) gadis itu mesti terlihat tomboi. Dandanannya minimalis. Sepatu kets, jins, topi, dan kaus tersemat di tubuhnya."

Bersama kameramen kamera 1, Agus Dharmawan, saya sudah melihatnya di ujung Utara Alun-Alun Surakarta, tapi panas, dan sibuk mengambil gambar, membuat saya hanya sempat mengirim pesan lewat handy talky Motorola ke kamera 2. Tapi tak di sangka kamera 2 berhasil menangkap momen maut selama 20 detik itu. Tabloid Bintang Indonesia merubah abis style tomboy gadis itu, fotonya bisa dilihat bersama artikel tentang pengalaman hilangnya di Papua.

Jadi, file AVI 20 detik itulah yang kini membuat Ibenk terbengong-bengong, di komputer sebelah, dengan Player DVD kami memutar file 20 detik itu berulang-ulang, membuat penasaran siapapun yang tak sengaja melihatnya. Keberaniannya memegang ular dan ketangguhannya saat hilang diPapua, membuat kami yang laki-laki ini terkagum-kagum. Eniwei, guys, mungkin sosok aslinya lebih cantik dari apa yang biasa terlihat di TV7, ditabloid dan bahkan di file 20 detik yang membuat Ibenk hampir mengeluarkan matanya. Tapi keberaniannya sungguh bisa dirasakan sangat menggetarkan hati. Perpaduan yang dahsyat bukan: kecantikan dan keberanian? i'm not beautiful like you, but i'mbeautiful like me...

Membuat saya mengirim berita ke kamera 2, membuat Sakti menangkap sosoknya di tengah ribuan orang yang berkerumun di jalanan Solo yang panas, membuat kamera 2 tanpa sengaja merekam sosoknya, membuat kami memutar file 20 detik itu berulang-ulang...

Itulah sosok Medina Kamil, 24 tahun. Dan Jejak Petualangannya yang cuma 20 detik itu memukaukami semua...

Petualangan Medina Kamil
fajarnugross@yahoo.com
Saturady 14/10/06 :
Fictionary Media Technology, Cipete, Jakarta.

Friday, October 13, 2006

'Bekerja dan Berkarya'


To:
minikino@yahoogroups.com
From:
"Ari Dina Krestiawan" Add to Address Book Add Mobile Alert
Date:
Thu, 12 Oct 2006 20:12:01 -0700 (PDT)
Subject:
Re: [minikino] Blognya Fajar dan Sponsor>> kerja dan karya


Hai Dionys,
Gue ngerasain banget yang namanya bedanya "bekerja" dan "berkarya", kegelisahan itu yang akhirnya membuat gue keluar dari bekerja di sebuah stasiun TV yang settle. Dan pandangan orang2 bekerja (teman2 sekantor) ketika itu adalah "lu pindah kemana?"
"Gue gak pindah ke mana2" gue jawab begitu. Dan mereka pun beranggapan gue punya kantor sendiri, pokoknya intinya tetap begitu.
Ya, gue terima aja lah anggapan begitu, punya kantor sendiri kan doa yang baik, he he he.

Gue mutusin untuk freelance, hal yang udah lama pengen gue lakuin dari dulu, alhamdulillah calon istri (sekarang dah jadi istri), mendukung. Gue keluar 4 bulan sebelum menikah, gue bilang sama calon mertua gue ya ketika 4 bulan sebelum menikah, bahwa gue sekarang dah gak kerja tetap lagi. Calon mertua gue diam, ha ha ha. Tapi kan gue dah keburu ngelamar anaknya.
Ya, alhamdulillah, walopun secara finansial gue masih berantakan ampe sekarang, tapi kesempatan untuk bikin karya itu ada.

4 bulan setelah gue keluar, gue dapat kesempatan untuk masang video gue di di OK Video, 3 bulan berikutnya, gue dapat kesempatan untuk ke Mexico City, ngasi workshop dokumenter untuk seniman seni rupa. Dan itu murni perjalanan untuk berkarya, kolaborasi sama seniman2 sana. Mantan temen2 kantor gue beranggapan, "gila lu pulang dari Mexico bawa duit banyak dong, udah bikin PH sendiri nih, gue kerja di tempat lu aja deh"
Hahaha, lagi2 rasanya doa yang bagus.
2 bulan berikutnya lagi, gue dapat award untuk best music video dan best director di kompetisi video klip indie. Alhamdulillah dapat kesempatan sekolah lagi 1 tahun walopun gak rajin kuliahnya.

Ya, setelah itu gue banyak bekerja lagi, dan kalopun bikin karya yang sifatnya impulsif. Dan sempet screening karya di Goethe Institute bareng temen2 juga masuk 5 besar Hello;Fest, sayang yang dapat "kado/hadiah" , cuma 4 besar, he he he.
Dan bulan September lalu ini, gue dapat kesempatan lagi untuk bikin karya, gue kolaborasi sama penulis dari Makassar dan fotografer dari Argentina, kita bikin pameran seni rupa.

Selama proses kolaborasi inilah gue belajar sesuatu dari temen Argentina itu, etos kerjanya sebagai seniman, maupun sebagai orang yang bekerja di commercial, bahwa emang ada masanya kita berenti sejenak dari "bekerja" untuk bikin "karya". Konsep itu juga ada di kepala gue, tapi belum jelas bagaimana ngungkapinnya.
Ketika gue liat web-nya, gue baru ngeh, ini yang gue cari, dia mengklasifikasikan portofolio-nya dengan "commercial work" dan "non commercial work".
Ya klasifikasi itu yang harus gue lakuin. Bahwa kita harus milih bersikap bagaimana ketika berbicara, maksudku, ketika kita berbicara dengan klien yang emang pikirannya duit melulu, ya kita sodorin aja yang commercial work, atau mungkin non commercial work yang berpotensi jadi commercial work (kaya karya2-nya si Fajar ini).

Buat gue, bikin film/video itu adalah kerjaan dan hobi sekaligus, itu bahaya, karena ketika jenuh kita gak tahu gimana larinya, lha wong jenuh kerja ngedit misalnya, terus mo lari ke hobi, ngedit juga (parah).
Ya, paling ketika jenuh, gue eksperimen gila2an aja, kocak2an yang mungkin belum ada artinya, tapi suatu saat akan nemuin sesuatu, lha wong namanya eksperimen kan, he he he.

Makanya, saat ini gue gak batasin bikin film pendek yang bercerita aja, tapi anykind of visual, itu yang menarik buat gue. Sisanya gue tetap harus bekerja, dan kadang orang2 di dunia komersil itu agak nyebelin ketika tau misalnya kita bikin art project juga, disangka kita dah gak mau kerja lagi, ga ditelpon untuk dikasih kerjaan, ya ampun gue masih pengen kerja, tapi ya harus ada liburnya dong.
Gue kagum sama Sim F, Anggun, mereka masih sempet bikin karya di kesibukan mereka.

salam

ari

----- Original Message ----
From: dionys dhewanindra
To: minikino@yahoogroup s.com
Sent: Friday, October 13, 2006 9:19:27 AM
Subject: [minikino] Blognya Fajar dan Sponsor

Aku tuntas membaca blogmu, Jar.
Membaca blogmu aja aku gak bisa tidur, apalagi kamu pelakunya langsung.
Aku harus acung jempol dan kamu tidak kacangan (dikelasnya )

Sayangnya kita tidak pernah bertemu sebelumnya.
1999 aku sudah hengkang ke Jakarta, meskipun antara 2000 – 2001 sesekali pulang ke Jogja untuk bikin karya dan lumayan dibahas dikoran juga kayak kamu (he he) Waktu itu film indie jogja hanya ada beberapa gelintir. Gak tau mereka masih eksis ato enggak sekarang. Tapi salah satu komunitas itu (cukup ternama di lokal setempat, termasuk sutradaranya) kadang aku baca pengumuman kegiatannya. Hanya saja karyanya jarang tercium lagi sekarang.
Mungkin suatu saat kita akan ketemu sambil ngobrol ngalor ngidul di angkringan.

SPONSOR

Membaca blogmu, kamu itu fenomena. Setidaknya yang aku tahu sementara ini.
Jarang ada filmmaker indie yang karyanya sampe diputer di bioskop dan mendapat sponsor lumayan bergengsi ( ukurannya di tahun itu lho. Mungkin sekarang sudah banyak). Persaingan untuk mendapat sponsor di Jogja sangat ketat karena bagaimanapun juga Jogja is gudangnya creator. Perbandingan kalangan pabrikan (sebut saja gitu) dan kalangan seniman sangat tidak seimbangan. Tapi itu tergantung bagaimana si seniman berkompromi pastinya. Sejumlah filmmu (meski aku belum nonton) secara tematik memang sangat dekat dengan segmen bidikan sponsor. Itu sih masalah pilihan kreatornya, tetap sah mau bikin karya yang kayak gimana. Artinya, kalau kita mau bikin karya yang ber-sponsor ya berarti bikinlah yang entertain. Bukan yang kontemporer, eksperimental atau absurd.

Suatu kali di tahun 2005, aku membuat produksi sinetron yang agak kontemporer sebanyak 13 episode untuk Jogja TV ( TV local). “ Panji Semiran Hanguncit Butuh “ judulnya, itu kalo kamu pernah nonton TV lokalmu lho. Sebuah komedi laga. Ceritanya pendekar yang balas dendam gara-gara gegar otak dalam kandungan.
Iklan/sponsor yang masuk kebanyakan sebangsa jamu-jamuan. Kenapa demikian? Tentu saja karena materi yang ada, cocoknya kalangan pabrikan yang demikian. Kalau aku bikinnya yang ngepop tentu sponsornya beda lagi bangsanya.
Filpen “ Trilogi Bangsat “ku sama sekali tak bersponsor karena prediksiku memang gak akan pernah ada sponsor yang mau ikutan. Kalau adapun mungkin bangsanya peti jenasah ato vodka. Bisa juga penerbit yang menerbitkan buku “ mengumpat itu mudah “. Tapi sekali lagi itu pilihan berkarya.


PERASAAN BERKARYA DAN BEKERJA YANG BERBEDA

Kembali ke paling awal, yakni masalah sampe gak bisa tidur.
Suatu kebanggaan yang terus menghantui itu wajar saja. Apalagi karya itu lahir pure dari kita sendiri. Berbeda sekali rasanya jika kita mengerjakan proyek orang alias bekerja
Sederet proyek sinetron, iklan, documenter, video klip, company profile, siaran langsung, dsb sudah sekian tahunan aku terlibat di dalamnya, tapi entah kenapa aku masih merasa ada perbedaaan antara “ berkarya “ dan “ bekerja “.
Aku gak tau apa cuman karena hanya orderan saja jadi rasanya beda.
Padahal menurutku, ditingkat hasil sama saja, ya gitu-gitu juga to formatnya. video klip ya kayak gitu, documenter ya kayak gitu, film komedi ya kayak gitu, dsb. Yang bedain cuma tujuan, bentuk/tampilan visual dan tema yang diangkat. Makanya aku menolak diskriminasi indie atau mayor ( secara : apa yang ingin ditampilkan. Bukan yang terkait teknis ). Lha wong (kata Edo di Wiki) bedanya cuma besar kecil budget produksi.
Aku pernah nonton sebuah film bikinan Bandung yang gambarnya pake jimmy jib, dolly track dan equipment berat lainnya. Bedanya mungkin hanya karena film itu gak ditransfer di seluloid dan gak bisa di puter di Bioskop saja. Ukuran budget pun akhirnya jadi sangat relative jika dibanding dengan yang dibikin pake handycam cap jempol. Apa yang dibikin pake handycam tadi disebut indie sementara yang pake jimmy jib mayor?
Kalau dipikir seperti itu, film Indonesia yang diputer di bioskop pun sebenarnya indie semua dibanding sama film bikinan Hollywood . Kenapa? Budget bikinan Hollywood rata-rata lebih gede dibanding bikinan Indonesia to?

Tentang perbedaan rasa berkarya dan bekerja, mungkin ada teman-teman yang merasakan hal seperti saya?

Medina di Kerajaan Tepi Bengawan


Saat syuting Kerajaan di Tepi Bengawan, 7 September 2006, mata kamera menangkap sosok cantik yang dikerubuti anak-anak, ternyata itu sosok Medina Kamil, presenter Jejak Petualang TV 7 yang sempat hilang di Papua. Cantik-cantik begini, sayang banget kalo hilang di Papua sana. Cantik-cantik begini, gak bakal hilang dari ingatan...

The SuperStar-Director #1

A good director makes sure that all parts of a film are creatively produced and brought together in a single totality. A director interprets the script, coaches the performers, works together with the montagist, etc., interrelating them all to create a work of art. According to Film Scholar Eric Sherman, the director begins with a vague idea of the entire film and uses this to help him determine what is to be done. He gains most when others are given their freedom to show what they know.

The position of the director in the traditional filmmaking process varies greatly and is extremely complex. The film director is seen as a leader of others, as providing a kind of guiding force. According to this view, the final outcome is more or less predetermined by requirements of the script, camerawork, acting, and editing; the director providing certain organizational context to the picture.

Judging from the comments of most professional directors, there is very little agreement as to what exactly their function is. There are some directors who say that they must concentrate primarily on the structures of the script. If their films are to be works of art, it will be because of the inherent beauty in the narrative and dialogue patterns in the script. Other directors are occupied primarily with the performance of actors. To them, the beauty of the film will be correlative with the quality of acting. These directors attend not only to the performance as a whole, but to endless minor nuances and gestures throughout.
Some directors attend primarily to the camerawork, their chief concern being for a pictorial beauty and smoothness of execution. There are still other directors who say that the art of film resides in the editing process. For them, all steps prior to editing yield crude material, which will be finally shaped and lent an artistic worth through their imaginative juxtaposition. The point is that there have evolved nearly as many theories of film directing as there are directors.


Only the director stands apart from any one particular contributory element but lends to all of them a sense of the pictures entirety

We cannot, while watching a film for the first time, point out particular shots or lines of dialogue and fully appreciate their ultimate relationship to the entirety of the picture. Similarly, the actor concentrating on every gesture, the writer concerned with logical narrative and captivating dialogue, the cameraman dealing with isolated images, and the editor concerned with the rhythmic flow are not in the position that the director is to grasp the film as a whole.
Only the director stands apart from any one particular contributory element but lends to all of them a sense of the pictures entirety. Many of the strongest directors have refrained from virtually any function besides that of an overseer of the film.

The director, whether he explicitly controls all the subordinate work in a film or merely creates a certain context through his very presence, is the only participant in a film's creation whose moment of self-expression is wide enough and, thus, whose artistic vision may come to characterize the film as a whole. The director's very role in the filmmaking process forces him to attend-explicitly or implicitly-to the entire film.

The director approaches a film with more or less a well-defined sense of its meaning. For him, this limits and determines what the basic drive should be of all the other contributing elements. As previously stated, the director's concern is always conditioned by a sense of the whole. He selects and guides all work and shapes it along the necessary route to achieve (as close as possible) what he has in mind.

When it is said that the director approaches a film with a sense of the whole in mind, obviously it is not meant that he has a complete knowledge of the finished product in all its parts. In fact, a director learns, as the production of the film progresses, exactly what it was that he had envisioned. There is no "beautiful shot" or "great cut" that has not been conditioned by the overriding vision of the whole that only the director provides.


What and Who Is a Director?
By definition, the director creatively translates the written word or script into specific sounds and images. He or she visualizes the script by giving abstract concepts concrete form. The director establishes a point of view on the action that helps to determine the selection of shots, camera placements and movements, and the staging of the action.
The director is responsible for the dramatic structure, pace, and directional flow of the sounds and visual images. He or she must maintain viewer interest. The director works with the talent and crew, staging and plotting action, refining the master shooting script, supervising setups and rehearsals, as well as giving commands and suggestions throughout the recording and editing.

Could a director be compared to an architect? A bricklayer laying brick upon brick? A conductor of a great orchestra? These descriptions fall short of the mark because what is being build is more volatile than stable, more fluid than secure. Director Roland Joffe (The Killing Fields) stated, "being a director is like playing on a multilayered, multidimensional chessboard, except that the chess pieces decide to move themselves." Every director has his own vision of what they feel directing entails.

Roman Polanski finds that "First of all, directing is an idea that you have of a total flow of images that are going on, which are incidentally actors, words, and objects in space. It's an idea you have of yourself, like the idea you have of your own personality, which finds its best representation in the world in terms of specific flows of imaginary images. That's what directing is."

Tertawa Bersama Film Dokumenter

Kompas Minggu 18 Desember 2005

Edna C. Pattisina


Berkali-kali pemuda berkulit hitam dan berambut keriting itu mengubah posisi duduknya. Matanya berpindah-pindah mengikuti pembicaraan dua pria yang juga duduk di lantai kayu. Dadanya turun naik, kepalanya berkali-kali menggeleng. Rugi saya kalau begitu, keluhnya.

Puluhan orang yang hadir di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Selasa (13/12) siang terpingkal-pingkal. Bukan karena mereka menertawakan pemuda bernama Lukas yang tampak resah. Lukas, pemuda suku Marind, pinggiran kota Merauke, untuk pertama kali mencoba menjual udang hasil tangkapannya ke Jayapura.

Selama ini, ia merasa terjebak dengan pedagang lokal yang membeli udang dengan harga murah. Inilah kisah tentang kerja keras dan harapan yang terbentur kekecewaan dalam film dokumenter Lukas Moment.

Menit demi menit membawa penonton lebih dekat dengan Lukas dan hidup sehari-harinya. Empati muncul saat pemuda yang sudah mengeluarkan modal Rp 600.000 ini hanya mendapat Rp 150.000 dari penjualan udang.

Makin lama, orang semakin tersadar kalau kehidupan pemuda berkulit hitam dan berambut keriting itu serupa dengan kehidupan sehari-hari banyak orang di kota besar. Hidup yang penuh harapan dan kekecewaan. Penonton bisa menertawakan diri sendiri, lewat sosok pemuda yang hidup dengan latar budaya jauh berbeda dari penonton.

Ternyata anak SMA di Merauke sama aja dengan kita yang SMA di Jakarta. Kalau bete, mereka belanja juga, tapi belanjanya buat makan adat, komentar seorang murid SMA dalam kuesioner yang disebarkan sutradara Lukas Moment, Aryo Danusiri.

Aryo berusaha menyuguhkan kepada penonton, bagaimana perjuangan Lukas akan harga diri. Bagaimana orang Papua melihat entrepreneurship dan bekerja lewat berbagai drama keseharian, kata Aryo.

Bergaya akrab
Lukas Moment menjadi salah satu film dokumenter yang tampil dalam sesi all about Indonesia di Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2005. Sebanyak 17 judul film berdurasi antara 15 sampai 108 menit disiapkan, namun tiga di antaranya tidak diputar, yaitu Passabe, Timor Loro Sae, dan Tales of Crocodilles. Dari respons penonton tampak film dokumenter tak lagi menjadi sesuatu yang serius, datar, membosankan, dan tak menghibur.

Film Jogja Needs A Hero misalnya, selama 25 menit menyapa penonton dengan gayanya yang akrab. Tampil dengan gambar-gambar cepat ala MTV, film arahan sutradara Fajar Nugroho ini malah kental muatan lokal.

Jogja Needs A Hero bercerita tentang dinamika yang terjadi dalam masyarakat Jogja saat prakiraan tentang terjadinya badai tropis sempat membuat sebagian masyarakat panik.
Penonton pun dibuat terpingkal-pingkal dengan kondisi ketika kepercayaan tradisional bertemu logika modern. Jogja Needs A Hero dengan jeli menyoroti cerita tentang sayur asem yang hilang dari pasar, hingga tempat-tempat mesum di daerah selatan yang sepi pelanggan.
Muatan-muatan lokal yang dikemas dengan cara bertutur dan editing yang modern membuka mata, kalau film dokumenter pun bisa tampil seksi dan bergaya.
Film-film tentang Aceh pascatsunami juga menarik perhatian dalam sesi ini. Kreativitas pembuat film seperti yang terlihat dalam Atjeh Lon Sayang, Uba Ate Allah Allah, Ubat Sosah Peyasan Beuna, dan Sejarah Negeri Yang Karam juga memberikan variasi dalam pengolahan tema yang sama.

Walau terkadang masih ada masalah-masalah teknis seperti sudut pengambilan gambar yang monoton, atau cerita yang kurang difokuskan, namun mereka menunjukkan film dokumenter tak kalah menghibur dibanding dengan film fiksi.